Motivasi Kerja PNS*

*Ditulis oleh : Yanuar Wijayanto, MT

Gambar

Pada dasarnya Reformasi Birokrasi adalah suatu perubahan  signifikan elemen-elemen birokrasi seperti kelembagaan, sumber daya manusia aparatur, ketatalaksanaan, akuntabilitas, aparatur, pengawasan dan pelayanan publik, yang dilakukan secara sadar untuk memposisikan diri (birokrasi) kembali, dalam rangka menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan yang dinamis. Perubahan  tersebut dilakukan untuk melaksanakan peran dan fungsi birokrasi secara tepat, cepat  dan konsisten, guna menghasilkan manfaat sesuai diamanatkan konstitusi. Perubahan kearah yang lebih baik, merupakan cerminan dari seluruh kebutuhan yang  bertitik tolak dari fakta adanya peran birokrasi saat ini yang masih jauh dari harapan. Realitas ini, sesungguhnya menunjukan kesadaran bahwa terdapat kesenjangan antara apa yang sebenarnya diharapkan, dengan keadaan yang sesungguhnya tentang  peran birokrasi dewasa ini.

Salah satu faktor kuat yang mempengaruhi terjadinya kesenjangan ini adalah motivasi kerja PNS yang rendah. Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.

Motivasi dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobinya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi. Salah satu teori yang menjelaskan tentang motivasi kerja adalah teori dari Vroom (1964) tentang Teori Ekspektasi[i] menjelaskan sebagai berikut :

“Expectancy theory proposes that an individual will decide to behave or act in a certain way because they are motivated to select a specific behavior over other behaviors due to what they expect the result of that selected behavior will be”

Seseorang akan memutuskan untuk berperilaku atau bertindak dalam cara tertentu, untuk memilih perilaku tertentu dibandingkan dengan perilaku lainnya karena ia berharap akan memperoleh hasil dari apa yang ia harapkan dari sebuah tindakan tertentu yang ia lakukan. Dengan kata lain, motivasi kerja PNS tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan dan motivasi kerja PNS rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan. Ada beberapa penyebab yang membuat rendahnya motivasi kerja PNS yaitu sbb :

  1. Ketidakadilan sosial di lingkungan kerja

Manakala terjadi ketidakadilan sosial di lingkungan kerja dalam definisi aksi yang diskriminatif baik dalam masalah kompensasi maupun dalam hal perlakuan. Sebagai contoh di sebuah Instansi dengan jumlah PNS mencapai puluhan atau ratusan orang yang terdiri dari empat bidang yaitu bidang A, B, C, D yang masing-masing bidang memiliki tugas kerja yang berbeda. Namun ada perlakuan dan kompensasi khusus yang diberikan hanya kepada salah satu bidang saja yaitu bidang A, tentu hal ini akan menurunkan motivasi kerja PNS yang bertugas di bidang B, C, D. Turunnya motivasi kerja ini berdampak pada penurunan kinerja dan kualitas pelayanan publik pula.

 

  1. Pemimpin yang apatis

Reformasi birokrasi membutuhkan pemimpin yang jujur dan peduli. Dibutuhkan sosok pemimpin yang “memberdayakan” anak buahnya bukan pemimpin yang “memperdaya” anak buahnya. Sosok pemimpin yang “merangkul” anak buahnya bukan pemimpin yang “memukul” anak buahnya. Reformasi birokrasi tidak membutuhkan pemimpin yang apatis yang hanya sibuk mementingkan perutnya sendiri sementara perut bawahannya kelaparan. Jangan pernah sekali-kali menghina dan meremehkan bawahan. Sebab seorang atasan tanpa bawahan akan telanjang, telanjang dalam artian ia tidak akan memiliki apa-apa. Ketika ada pemimpin yang hanya disibukkan memikirkan dirinya sendiri maka ketika itu pula motivasi kerja PNS akan terjadi penurunan yang berdampak pada penurunan kinerja dan kualitas pelayanan publik pula.

 

  1. Situasi kerja yang tidak kondusif

Ketika seseorang larut dalam budaya kerja materialistik yang menuhankan pangkat, jabatan yang tinggi, deposito yang besar, mobil yang bagus, rumah yang mewah maka yang terjadi adalah tujuan yang menghalalkan segala cara. Untuk mencapai tujuan-tujuannya tersebut maka ia akan melakukan apapun termasuk menjilat, menyikut, menjegal kawan seiiring, yang paling penting menurutnya adalah bagaimana tujuan-tujuannya tersebut dapat tercapai. Jika kerakusan telah merajalela maka yang terjadi adalah hukum rimba dimana yang “kuat” yang akan bertahan. Dan apabila hal itu terjadi maka yang akan bernasib malang adalah PNS yang tidak memiliki “kekuatan”. Ada dua kemungkinan motivasi disini yaitu yang pertama motivasi tinggi untuk ikut larut dalam budaya materialistik atau motivasi rendah untuk mengikuti budaya materialistik tersebut. Kemudian yang menjadi permasalahan adalah motivasi tinggi yang didorong oleh kerakusan yang akan membuat situasi kerja yang menjadi tidak nyaman dan kondusif sehingga pada akhirnya akan terjadi penurunan motivasi kerja PNS yang berdampak pada penurunan kinerja dan kualitas pelayanan publik pula.

Kesimpulannya adalah motivasi kerja mempengaruhi kualitas kinerja. Motivasi kerja PNS tinggi jika usahanya menghasilkan sesuatu yang melebihi harapan dan motivasi kerja PNS rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan. Rendahnya motivasi kerja PNS tersebut disebabkan oleh ketidakadilan sosial yang terjadi di lingkungan kerja, pemimpin yang apatis dan situasi kerja yang tidak kondusif.

 

[i] Oliver, R. (August, 1974). Expectancy Theory Predictions of Salesmen’s Performance. Journal of Marketing Research 11, 243-253.

About Development Analyst

The Learner

Posted on 22 Mei 2014, in PEMBANGUNAN DEMOKRASI. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Prof. Dr. Hj. Syamsiah Badruddin, M.Si

Just another WordPress.com weblog

Marco Kusumawijaya

on cities and citizens; forsaken ideas that I believe in

CIPPS - Center of Indonesian Public Policy Studies

Center of Indonesian Public Policy Studies

Development Studies Foundation

Interaction-Ecoinnovation-Sustainability

%d blogger menyukai ini: