TATA KELOLA PERMUKIMAN KUMUH DI KAWASAN PUSAT KOTA SALATIGA *

Abstrak

*Ditulis Oleh Yanuar We

kumuh
Kawasan Permukiman Pancuran adalah kawasan permukiman yang terletak di pusat Kota Salatiga yang dikelilingi oleh kawasan pertokoan Jend. Sudirman, Pasar Raya I dan II, Pasar Gedhe dan Pasar Blauran. Dalam perkembangannya, kawasan permukiman Pancuran ini dipengaruhi oleh interaksi kawasan perdagangan tersebut. Yang menjadi pertanyaan studi disini adalah: mengapa kawasan ini menjadi kumuh dan faktor apa saja yang mempengaruhinya? Analisis kajian secara kualitatif deskriptif, menjelaskan ada dua alasan dari pernyataan tersebut yaitu pengaruh dari dalam dan luar kawasan tersebut. Pengaruh dari dalam yaitu: karakteristik hunian, penghuni dan sarana dan prasarana. Karakteristik hunian yaitu kondisi rumah yang tidak sehat baik pencahayaan, udara dan toilet serta bersifat temporer, dimana tidak diperbaiki dengan baik. Hal ini sangat rentan terhadap kebakaran. Karakteristik penghuni: masyarakat kawasan Pancuran ini sebagian besar berpenghasilan rendah dan bekerja di bidang informal sektor. Karakteristik sarana dan prasarana seperti air bersih, sanitasi, jalan lingkungan dan drainase di kawasan ini kondisinya juga minim. Sedangkan pengaruh dari luar kawasan Pancuran antara lain adalah regulasi dan urbanisasi yang terjadi. Para pendatang ini hanya tinggal sementara di kawasan ini karena kebanyakan mereka adalah pedagang yang mempunyai usaha di kawasan perdagangan di sekitar kawasan permukiman Pancuran. Para pendatang itu menyewa rumah ataupun kamar dengan pembayaran harian maupun bulanan atau bahkan tahunan. Kebanyakan mereka berasal dari luar pinggiran kota ataupun luar daerah Salatiga. Dari hasil analisis studi dapat disimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan kawasan Pancuran menjadi kumuh adalah faktor tingkat penghasilan, status kepemilikan hunian, dan lama tinggal. Dari hasil analisis tersebut, maka dapat direkomendasikan upaya perbaikan tata kelola lingkungan perumahan dan permukiman di kawasan Pancuran ke arah yang lebih baik. Salah satu diantaranya adalah penataan kawasan melalui pembangunan Rusunawa.

Kata Kunci: Tata Kelola, Permukiman kumuh, Kota Salatiga


PENGANTAR

Kawasan Permukiman Pancuran adalah kawasan permukiman yang terletak di pusat Kota Salatiga yang dikelilingi oleh kawasan pertokoan Jend. Sudirman, Pasar Raya I dan II, Pasar Gedhe dan Pasar Blauran.

Berdasarkan observasi Penulis, banyak masyarakat kawasan tersebut yang melakukan usaha home industri yaitu pembuatan kerupuk gendar atau karak yang biasanya mereka memanfaatkan daerah sungai untuk menjemur kerupuk tersebut dan membuang limbah ke sungai yang mengakibatkan sungai tersebut menjadi kotor dan tercemar. Disamping itu kurang terpeliharanya kebersihan lingkungan kawasan menyebabkan kawasan terlihat kumuh, kotor, tidak sehat dan tidak nyaman lagi untuk dijadikan tempat hunian yang layak. Pada umumnya selain dampak fisik lingkungan, muncul pula beberapa dampak sosial yang dirasakan oleh masyarakat, khususnya yang tinggal di lingkungan permukiman padat tersebut antara lain kesehatan yang tidak terjamin, banyak terjadi kejahatan karena lingkungan yang tidak nyaman.

Penulis yang tinggal di Kota Salatiga bersama orang tua dari tahun 2000 hingga sekarang merasa terpanggil dan tertarik untuk mengangkat permasalahan tata kelola permukiman kumuh di kawasan pusat Kota Salatiga sebagai bahan kajian dalam jurnal ini dalam rangka menemukenali struktur permasalahan dan berupaya untuk mencarikan solusi atas permasalahan yang muncul tersebut.

METODE

Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, (Creswell, 2008); dan kategori sifat penelitian: deskriptif, (Groat & Wang, 2002). metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Metode pengumpulan data primer yang digunakan adalah observasi langsung (direct observation) sebagai outsider, wawancara. Sedangkan data sekunder menggunakan studi literatur atau data arsip : Buku, dokumen Peraturan Perundang-undangan, Surat Kabar, Internet (Prof Sugiyono, 2012).

DISKUSI

Deskripsi Permasalahan

Secara geografis, Kota Salatiga terletak tepatnya di dalam wilayah Kabupaten Semarang, berjarak ± 54 Km kearah selatan dari Kota Semarang. Letak kota Salatiga cukup strategis karena pada jalur transportasi darat utama Jakarta-Semarang-Solo-Surabaya dan terletak di antara dua pusat kota pengembangan yaitu Kota Semarang dan Kota Surakarta. Sedangkan secara morfologis, Kota Salatiga berada di daerah pedalaman, kaki gunung Merbabu dan gunung-gunung kecil antara lain Gajah Mungkur, Telomoyo, dan Payung Rong.

Sempitnya lahan dalam kota yang dapat dibangun sesuai tuntutan kebutuhan peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan usaha penataan wilayah di pinggiran kota dengan wilayah kota dalam suatu kesatuan perencanaan, memerlukan batas wilayah administrasi Kota Salatiga diubah dengan memasukkan beberapa desa dari wilayah Kabupaten Semarang. Sehingga luas Kota Salatiga yang semula 1.787,25 Ha dengan luas efektif ± 1.442 Ha, dengan adanya perluasan itu luas wilayah Kota Salatiga menjadi 5.678,11 Ha.

Kegiatan pusat kota di Kota Salatiga didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa. Kegiatan ini berpusat di sepanjang Jl. Jenderal Sudirman yang ditandai dengan banyaknya fasilitas perdagangan dan jasa. Dengan adanya pemusatan kegiatan tersebut tentu akan mendorong penduduk untuk bermukim disekitarnya. Hal ini ditandai dengan adanya wilayah lingkungan permukiman padat yang keberadaannya di sekitar pusat kegiatan tersebut yaitu permukiman Pancuran yang terletak di wilayah permukiman dengan kepadatan tertinggi Kelurahan Kutowinangun.

Kawasan Pancuran tersebut memiliki kegiatan yang heterogen. Sebagian besar penduduk membuka usaha home industri dan pedagang non formal atau kaki lima di pusat kota. Dari hasil survei sekitar 30% fungsi dari bangunan sudah berubah menjadi campuran antara hunian dan tempat usaha. Kegiatan masyarakat di kawasan ini sangat bervariasi ada yang melakukan kegiatan industri di rumah, berjualan dengan membuka warung, pedagang kaki lima di pusat kota karena jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.

Nilai rumah akan menyangkut nilai pasar dari unit rumah serta nilai manusiawi dan nilai sosial dari proses bermukim atau proses berumah tangga. Dengan pengertian nilai rumah seperti diatas, maka masalah perumahan bukan sekedar sejumlah kekurangan rumah dibawah standar, tetapi menyangkut juga nilai manusiawi dan nilai sosial budaya dari proses bermukim. Perumahan harus diartikan sebagai proses yang

memasukkan produk. Nilai yang sesungguhnya dari rumah terletak dalam hubungan antara elemen-elemen kegiatan perumahan yakni : pelaku (aktor), aktifitasnya (actifities), dan prestasi atau hasilnya (achievment). Tetapi yang menjadi permasalahan adalah rumah harus memenuhi persyaratan rumah sehat. Dalam UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang “Kesehatan” ditegaskan, bahwa kesehatan lingkungan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, dilakukan antara lain melalui peningkatan sanitasi lingkungan pada tempat tinggal maupun terhadap bentuk atau wujud substantifnya berupa fisik, kimia atau biologis termasuk perubahan perilaku yang diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, yaitu keadaan lingkungan yang bebas dari risiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatan hidup manusia, sehingga kondisi fisik lingkungan permukiman harus diperhatikan.

Berdasarkan data sekunder yang didapat, bentuk konstruksi bangunan Kawasan Pancuran sebagian besar adalah dinding semi permanen yaitu sebanyak 55 % hunian, 25 % dinding kayu dan 20 % konstruksi permanen. Konstruksi bangunan diatas membentuk suatu tempat hunian dengan luas bangunan yang sebagian besar (70 %) seluas di bawah 36m2 dan hanya 5 % yang memiliki luas bangunan sebesar lebih dari 70 m2. Bangunan-bangunan di kawasan Pancuran memang masih banyak yang bersifat semi peremanen yaitu dengan dinding setengah batu bata dan setengah lagi terbuat dari bahan kayu ataupun dari dinding bambu.

Dengan kondisi dan lahan yang sangat terbatas maka antar bangunan hunian pun tidak memiliki jarak yang sesuai dengan standart yang dipersyaratkan, sehingga kawasan ini menjadi kumuh karena padatnya bangunan hunian. Kawasan Pancuran ini merupakan wilayah kumuh di Salatiga karena kepadatan bangunan yang tinggi yaitu 57,3 % dengan jumlah rumah 4.429 buah dengan luas wilayah 0,689 km2.

Penduduk Kel. Kutowinangun dimana permukiman Pancuran berada berjumlah 19.601 jiwa sebagian besar mempunyai penghasilan dari usaha perdagangan maupun industri yang mencapai 60% dari jumlah penduduk di Kel. Kutowinangun, sedangkan yang lainnya di bidang jasa. Kawasan Pancuran ini merupakan wilayah Kelurahan Kutowinangun dengan luas 2.937 km2 dan jumlah penduduk 19.601 jiwa dengan kepadatan 28.448 jiwa/km2 termasuk kawasan terpadat di Kota Salatiga (Salatiga dalam angka 2003, BPS).

Pengertian Tata Kelola

Istilah Tata kelola terkait erat dengan pengaturan, pengarahan atau pengendalian. Praktik tata kelola mencangkup proses dan sistem yang dengan ini masyarakat bekerja atau beroperasi. Tata kelola berurusan dengan serangkaian keputusan, aktor-aktor yang terkait dengan keputusan-keputusan tersebut dan area permasalahan dari keputusan-keputusan tersebut (Sonny Yuliar, 2009). Tata kelola menekankan pada pemikiran, kebijakan, konsensus, keputusan, pandangan dari agen-agen. Yang dimaksud agen disini adalah pemikiran, keyakinan dan bukanlah diartikan mutlak sebagai manusia atau institusi. Tata kelola berpandangan ada yang perlu dibangkitkan dari pemikiran dan keyakinan manusia menuju kearah pengaturan yang lebih baik (Indra B. Syamwil, 2012).

Pengertian Permukiman Kumuh

Menurut Tjuk Kuswartojo, 2010, ada beberapa pengertian dari permukiman kumuh. Yang pertama, permukiman kumuh adalah permukiman pedesaan yang terlanda urbanisasi dan kemudian menjadi kumuh. Awalnya mungkin suatu permukiman pedesaan miskin yang berada di pinggiran kota tetapi oleh perkembangan kota kemudian menjadi berada di pusat kota. Dalam permukiman ini masih ada komunitas asli yang karena kemiskinannya menjual tanahnya sepetak demi sepetak. Fragmentasi dan penciutan pemilikan tanah inilah yang kemudian menimbulkan kekumuhan.

Yang kedua, permukiman kumuh adalah permukiman liar yang tumbuhnya diawali oleh para pelopor yang berasal dari tempat lain (kota atau desa) yang mau hidup seadanya di kota. Apabila pelopor ini ini kemudian mapan dan berhasil mengembangkan dirinya yang dilakukannya adalah mengajak kerabatnya. Yang ketiga permukiman kumuh yang tumbuh oleh industrialisasi. Permukiman kumuh yang berkaitan dengan industri ini tidak tumbuh melalui jalur kekerabatan tetapi melalui kesempatan oleh industri dan usaha persewaan yang dikembangkan masyarakat setempat.

Tata Kelola Permukiman Kumuh Pancuran Salatiga

Tata kelola terhadap permukiman kumuh pada umumnya mencangkup tiga aspek yaitu : pertama kondisi fisiknya, kedua kondisi sosial ekonomi budaya masyarakat yang bermukim di permukiman tersebut, dan ketiga dampak oleh kedua kondisi tersebut. Kondisi fisik tersebut antara lain tampak dari kondisi bangunannya yang sangat rapat dengan kualitas konstruksi rendah, jaringan jalan tidak berpola dan mungkin tidak diperkeras, sanitasi umum, dan drainase tidak berfungsi bahkan mungkin tidak ada, sampah tidak terkelola. Kondisi sosial ekonominya antara lain mencangkup tingkat pendapatan yang rendah, norma sosial yang longgar, budaya kemiskinan yang mewarnai kehidupan masyarakatnya yang antara lain tampak dari sikap dan perilakunya yang apatis serta yang hanya memikirkan kepentingan sesaat. Kondisi tersebut sering mengakibatkan kondisi kesehatan masyarakat buruk, sumber pencemaran, sumber penyebaran penyakit dan perilaku menyimpang, yang berdampak pada kehidupan kota keseluruhannya (Tjuk Kuswartojo, 2010).

Pada kawasan Pancuran ini kondisi jalan lingkungannya masih mencukupi, sedangkan luasannya sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan karena sebagian lahan pada jalan lingkungan digunakan oleh masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai tempat berjualan maupun untuk menjemur hasil produksi industri mereka yaitu kerupuk gendar. Sehingga para pejalan kaki maupun para pengguna jalan sudah tidak nyaman lagi menggunakan prasarana umum tersebut. Disamping itu karena hunian yang ada dipinggir jalan tidak mematuhi aturan garis sempadan bangunan dan tidak ada jarak lagi antar bangunan dan jalan, hal ini akan sangat berbahaya bagi pengguna jalan. letak geografis dari kawasan ini berada di daerah yang terletak pada lokasi yang rendah dan berada di pusat kota. Sehingga kawasan ini merupakan kawasan simpul bertemunya drainase-drainase kota dan menyebabkan banyak permasalahan yang bisa timbul akibat kurangnya maintenance yang dilakukan pemerintah. Kondisi saluran drainase pada kawasan ini sangatlah memprihatinkan, karena kondisinya yang sudah tidak layak dan menyebabkan tidak berfungsinya drainase tersebut. Disamping saluran drainase yang ada, kawasan ini juga dilewati sungai (drainase alam).

Kawasan permukiman Pancuran ini merupakan kawasan permukiman yang berada di pusat kota Salatiga, namun demikian sistim sanitasi masyarakat masih menggunakan MCK umum, karena mereka 90% tidak memiliki kamar mandi dan wc sendiri di rumahnya. Di kawasan Pancuran ini terdapat 2 buah MCK umum dimana kondisinya sangat memprihatinkan dan dapat mengganggu kesehatan. Disamping kualitasnya yang tidak memenuhi juga kuantitasnya yang jauh dari cukup. Sedangkan untuk kebutuhan akan Mandi Cuci Kakus, sebagian besar warga lebih menggunkan fasilitas MCK umum. Ketersediaan fasilitas MCK umum ini merupakan hasil kerjasama antar warga dan atas bantuan dari pemerintah. Karena kondisi MCK baik kualitas maupun kuantitas yang ada tidak memenuhi standart besaran ruang dan standart kesehatan maka masyarakat kawasan ini menggunakan sungai atau drainase alam yang melintas di kawasan ini untuk digunakan sebagai sarana untuk mandi, cuci dan kakus serta untuk mencuci. Karena letaknya yang kawasan permukiman yang berada di sekitar kawasan perdagangan (Pasar Gedhe), karena adanya interfensi pasar menyebabkan kawasan permukiman tersebut terkesan kumuh dan pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan.

Kekumuhan kawasan permukiman tersebut dapat dilihat dengan padatnya rumah serta kondisi infrastruktur seperti saluran yang tidak lancar. Bangunan-bangunan rumah di kawasan tersebut sebagian besar sudah permanen dan lantai sudah menggunakan keramik. Di kawasan pusat kota masyarakat cenderung mengembangkan usahanya di rumah, karena keterbatasan lahan. Sehingga muncul home industri, sehingga peruntukan lahan yang semula hanya untuk perumahan bertambah fungsi menjadi tempat tinggal dan tempat usaha dan muncullah mix land use (campuran) di kawasan pusat kota, yang banyak dijumpai di sekitar kawasan perdagangan. Adanya tuntutan perekonomian kota, perkembangan kawasan komersial di pusat kota seakan-akan diberikan kelonggaran oleh Pemerintah Kota. Perkembangan kawasan komersial tersebut berkembang cukup pesat terutama di Kawasan Sudirman yang notabene merupakan daerah sekitar lingkungan Kawasan Permukiman Pancuran. Adanya kondisi dan peluang ekonomi (investasi kearah aktivitas perdagangan dan jasa) di lingkungan sekitar Kawasan Permukiman Pancuran tersebut, mendorong para penghuni (sebagai makhluk sosial) untuk ikut andil dalam aktivitas ekonomi yang berkembang di dalamnya. Sebagai informasi, bahwa Kawasan Permukiman Pancuran terletak di dalam kawasan perdagangan Kota Salatiga yang disebut sebagai Segitiga Emas ( Pasar Raya I, Pasar Blauran, Pertokoan Tamansari).

Kawasan permukiman Pancuran ini terletak ditengah-tengah kawasan perdagangan dan dilingkupi oleh kawasan perdagangan komersial Sudirman, Pasar Raya dan pasar Blauran. Kondisi ini, mengakibatkan timbulnya percampuran dua aktivitas pokok yang berdampak pada kompleksitas kegiatan manusia. Aktivitas yang dimaksud diantaranya adalah aktivitas komersial yang ditimbulkan oleh kegiatan lalu lintas barang dari aktivitas perdagangan dan aktivitas berhuni/menghuni oleh adanya keberadaan kawasan permukiman.

Kawasan perdagangan dan jasa (komersial) tersebut menimbulkan dua fenomena krusial dalam kehidupan penghuni, yaitu berkecimpung dalam aktivitas ekonomi secara langsung (beraktivitas langsung di lokasi Kawasan Perdagangan dan Jasa Sudirman) dan yang kedua adalah dengan mengembangkan tempat hunian mereka sebagai lokasi berdagang (yaitu dengan menggunakan sisa lahan yang ada sebagai bangunan komersial). Fenomena kedua yang baru disebutkan tersebut berdampak terhadap beralihnya fungsi utama Kawasan Pancuran sebagai kawasan permukiman menjadi

kawasan campuran, yaitu selain sebagai tempat hunian juga difungsikan sebagai tempat berdagang/usaha.

Fenomena sosial di atas, selaras dengan apa yang diteorikan oleh Philip L. Clay (1979 : 15-16), dimana pusat kota merupakan daya tarik bagi masyarakat untuk mengembangkan usahanya, karena pusat kota adalah merupakan pusat semua kegiatan maupun hiburan. Maka hal ini akan menyebabkan proses urbanisasi. Menurut Drs. Khomarudin, MA (1997 : 83-112) semakin bertambah padatnya suatu kawasan permukiman akan menyebabkan kawasan tersebut menjadi kumuh. Demikian juga yang terjadi pada kawasan permukiman padat Pancuran ini.

Aktivitas di sekitarnya adalah perdagangan dan pasar tradisional dimana aktivitasnya masuk kedalam kawasan permukiman karena tidak adanya batas atau jarak yang ada hingga menyebabkan kawasan permukiman menjadi kumuh. Seperti juga halnya mobilitas barang dari pasar tradisional Blauran ke pasar Gedhe juga melewati kawasan permukiman ini karena jarak yang lebih dekat. Dengan padatnya aktivitas pasar ini maka kegiatan permukiman Pancuran inipun terpengaruh oleh kegiatan pasar. Bahkan banyak bangunan-bangunan hunian di kawasan Pancuran disewakan untuk gudang tempat penyimpanan barang dagangan. Dapat dilihat saat ini kondisi lingkungan permukiman Pancuran sudah tidak layak lagi untuk disebut sebagai lingkungan permukiman karena aktivitasnya sudah bercampur dengan aktivitas pasar.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat beberapa keadaan yang mampu menjadikan lingkungan suatu kawasan permukiman menjadi kumuh, salah satu diantaranya adalah perubahan fungsi dari bangunan itu sendiri (Tjuk Kuswartojo, 2010). Perubahan fungsi bangunan akan berdampak pada perubahan bentuk dan tampilan bangunan, baik yang terjadi di dalam ruangan (interior) maupun di luar ruangan (eksterior). Kondisi perubahan bentuk dan tampilan bangunan ini jika dilakukan tanpa mengindahkan aturan dan estetika tata bangunan yang baik akan menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas lingkungan sehingga dapat digolongkan sebagai lingkungan kumuh. Apalagi jika penambahan bangunan untuk tempat usaha tersebut memanfaatkan ruang public yang dapat mengganggu fungsi ruang publik tersebut.

Seperti halnya yang terjadi di kawasan permukiman Pancuran ini sekitar 80% dari masyarakat yang membuka usaha di sektor informal memanfaatkan sisa lahan yang ada untuk dibangun bangunan untuk usaha mereka. Hal ini akan menyebabkan lahan terbuka menjadi berkurang, selain itu juga mengurangi daerah resapan air ke dalam tanah. Sedangkan yang 20% menggunakan lahan yang peruntukkannya bagi areal publik misalnya di atas trotoar atau di tepi jalan lingkungan. Hal ini tentu saja menyebabkan fungsi dan peruntukan sarana publik tersebut menjadi tidak maksimal, para pejalan kaki menjadi terganggu keamanannya, para pengendara kendaraan yang memanfaatkan jalan lingkungan juga merasa tidak nyaman, karena area ruang gerak atau sirkulasinya berkurang, sehingga pengendara tidak dapat menggunakan jalan tersebut dengan nyaman. Karena keterbatasan dana kebanyakan masyarakat yang membuka usaha di sektor informal menggunakan bahan bangunan seadanya baik dari bahan kayu, seng, kain, besi, bambu tanpa mempedulikan nilai estetika. Hingga mengakibatkan tampilan visual yang kurang indah dan berkesan kumuh karena pengaturan yang kurang baik, luasan bangunannya, keragaman bahan dan warna bangunan tersebut. Kondisi estetika semacam itulah yang mengindikasikan bahwa kawasan tersebut berada dalam kategori kawasan kumuh.

Kebijakan Tata Kelola Permukiman kumuh yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Kota Salatiga

Menurut Dr Indra B. Syamwil, 2012, Tata kelola menekankan pada pemikiran, kebijakan, konsensus, keputusan, pandangan dari agen-agen. Yang dimaksud agen disini adalah pemikiran, keyakinan dan bukanlah diartikan mutlak sebagai manusia atau institusi. Dari analisa di atas ada yang perlu dibangkitkan dari pemikiran dan keyakinan Pemerintah Kota Salatiga terkait pengaturan kawasan permukiman kumuh di daerah Pancuran dalam rangka mengatur, mengurus, mengendalikan kawasan Pancuran menjadi kawasan permukiman yang bersih, sehat, nyaman dan aman melalui beberapa kebijakan yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :

  1. Pengembangan dan fasilitator UKM (Usaha Kecil Masyarakat) bagi pengembang usaha kecil di Kawasan Pancuran, dengan upaya peningkatan pendapatan masyarakat. Pengembangan UKM diarahkan mampu memberikan keringanan kredit usaha dan mampu memperluas jaringan pemasaran produksi.
  2. Perlu dilakukan program Konsolidasi Lahan di Kawasan Permukiman Pancuran, terutama bagi lahan-lahan yang tidak layak untuk dijadikan tempat hunian. Tahap awal program konsolidasi lahan perlu diawali dengan sosialisasi kepada warga tentang kepentingan konsolidasi dan bentuk sistem konsolidasi yang akan dilakukan.
  3. Pembangunan Rusunawa atau Pondok bagi pedagang temporer yang peruntukkannya lebih ditujukan pada kaum pedagang temporer tersebut atau pendatang yang beraktifitas di kawasan pusat Kota Salatiga tersebut. Pengelolaan Rusunawa atau Pondok bagi pedagang temporer tersebut dapat dilakukan melalui sistem sewa bagi para penghuni.
  4. Pengembangan dan optimalisasi sarana dan prasarana pendukung aktifitas bermukim, seperti halnya:
    1. Pelebaran jalan lingkungan dari 2 meter menjadi 3 meter.
    2. Pengadaan jaringan air bersih melalui sistem pemipaan.
    3. Penambahan bangunan MCK di beberapa titik hingga mampu menjangkau seluruh kebutuhan penghuni, terutama bagi mereka yang belum mampu memenuhi kebutuhan MCK secara pribadi.
    4. Penyediaan sarana pembuangan sampah sementara dengan didukung oleh manajemen pengangkutan yang teratur.

KESIMPULAN

  1. Berdasarkan kebijakan tata ruang Kota Salatiga, keberadaan Kawasan Permukiman Pancuran tidaklah mendukung sebagai kawasan aktifitas hunian. Perkembangan secara pesat aktifitas perdagangan dan jasa serta perkantoran sebagai aktifitas dominan kawasan telah menggeser nilai tata kelola lingkungan hunian pada Kawasan Permukiman Pancuran.
  2. Permukiman kumuh yang terjadi di kawasan pancuran Salatiga adalah  permukiman liar yang tumbuhnya diawali oleh para pendatang yang berasal dari tempat lain (kota atau desa) yang mau hidup seadanya di kota. Pendatang ini ini kemudian mapan dan berhasil mengembangkan dirinya yang dilakukannya adalah mengajak kerabatnya. Lama tinggal penghuni sebagian besar adalah antara 5 – 10 th, hal tersebut mengindikasikan bahwa dengan tenggang waktu hunian yang relatif belum lama mempengaruhi rasa ”telah memiliki” warga akan lingkungannya kurang kuat, sehingga keinginan untuk memperbaiki lingkungan kurang kuat pula.
  3. Ditinjau dari pola penggunaan lahan dalam perubahan fungsi bangunannya, warga lebih condong memanfaatkan sisa lahan yang ada, sehingga berdampak terhadap tingkat kepadatan bangunan yang sangat tinggi.
  4. Karakteristik tempat hunian kawasan permukiman Pancuran adalah:

a. Perubahan fungsi bangunan pun dapat menyebabkan rendahnya kualitas lingkungan seperti perubahan fungsi hunian menjadi tempat usaha. Apalagi jika penambahan bangunan untuk tempat usaha tersebut memanfaatkan ruang publik yang dapat mengganggu fungsi ruang publik.

b. Sebagain besar konstruksi bangunan semi permanen yaitu sebesar 55 % dan 25 % lainnya justru berkonstruksi dinding kayu, sehingga ditinjau dari konstruksi jelas tergolong dalam kawasan permukiman marjinal yang tentunya kurang mampu untuk bertindak dalam menjaga kualitas lingkungan.

  1. Kelayakan lokasi Kawasan Permukiman Pancuran ditinjau dari Standar Direktorat Cipta Karya dinilai kurang memberikan nilai kelayakan yang signifikan, hal ini dipengaruhi oleh adanya gangguan polusi pada kawasan, kurang tersedianya air bersih, tidak memiliki kemungkinan untuk berkembang, serta merupakan daerah rawan genangan dan kebakaran. Sehingga penanganan yang tegas terhadap kawasan permukiman ini perlu ditegakkan.
  2. Sedangkan faktor penyebab penurunan kualitas lingkungan permukiman Kawasan Pancuran adalah disebabkan oleh jumlah penghuni, status kepemilikan, penghasilan, luas lahan dan lama tinggal.

 

Daftar Pustaka

Clay. 1979, Neighborhood Renewal, Toronto: Lexington Books, DC Health & Co.

Creswell, J.W. (2008). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. California: Sage Publications, Inc.

Groat, L. & Wang, D. (2002). Architectural Research Methods. New York: John Wiley & Sons. Inc.

Khomarudin. 1997, Menelusuri Pembangunan Perumahan dan Permukiman, Jakarta: Yayasan Real Estate Indonesia, PT. Rakasindo, Jakarta.

Kuswartojo, Tjuk. 2010. Mengusik Tata Penyelenggaraan Lingkungan Hidup dan Pemukiman. Bandung : Kelompok Keahlian Perumahan dan Permukiman SAPPK ITB.

Sugiyono. (2012) Metode Penelitian Kombinasi. Bandung : Alfabeta.

Yuliar, Sonny. 2009. Tata Kelola Teknologi Perspektif Teori Jaringan Aktor. Bandung : Penerbit ITB.

Peraturan Perundang-undangan

Dalam UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan

Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman

Lain-lain

Salatiga Dalam Angka, Tahun 2003, BPS Kota Salatiga

About Development Analyst

The Learner

Posted on 21 Desember 2012, in PEMBANGUNAN SOSIAL-BUDAYA and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Prof. Dr. Hj. Syamsiah Badruddin, M.Si

Just another WordPress.com weblog

Marco Kusumawijaya

on cities and citizens; forsaken ideas that I believe in

CIPPS - Center of Indonesian Public Policy Studies

Center of Indonesian Public Policy Studies

Development Studies Foundation

Interaction-Ecoinnovation-Sustainability

%d blogger menyukai ini: