SOSIALISME : SISTEM DUNIA : PARTISIPATORIS

  1.  

     

    A.    TEORI SOSIALISME 

ANALISIS :

 

Istilah sosialisme atau sosialis dapat mengacu ke beberapa hal yang berhubungan dengan ideologi atau kelompok ideologi, sistem ekonomi, dan negara. Istilah ini mulai digunakan sejak awal abad ke-19. Dalam bahasa inggris, istilah ini digunakan pertama kali untuk menyebut pengikutRobert owen pada tahun 1827. Di Prancis, istilah ini mengacu pada para pengikut doktrin saint-simon. Penggunaan istilah sosialisme sering digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda-beda oleh berbagai kelompok, tetapi hampir semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi menurut mereka dapat melayani masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite. Sistem ekonomi sosialisme sebenarnya cukup sederhana. Semua aspek ekonomi dianggap sebagai milik bersama, tapi bukan berrarti harus dimiliki secara sepanuhnya secara bersama, semua aspek ekonomi boleh dimiliki secara pribadi masing-masing, dengan syarat boleh digunakan secara Sosialis, mirip dengan gotong-royong sebenarnya. Negara yang menganut paham ini antara lain : Azerbaijan, Tajikistan, Kazakhtan, Guyana, Angola, Kongo, Myanmar, Cina, Kuba, Vietnam, Korea Utara,Etiopia. Sosialis adalah paham dimana hal milik pribadi atau property serta pendistribusian kemakmuran dapat dikontrol secara bersama atau secara komunitas dan bukan oleh pribadi atau suatu kelompok saja. Dalam hal kenegaraan komunitas mengacu ke rakyat dan pribadi mengacu ke seseorang atau kelompok tertentu saja. Tentu saja paham ini tumbuh bagai jamur di musim hujan ketika industrialisasi di Eropa bergerak dengan cepat. Hal ini menimbulkan apa yang disebut “Working Class”, atau “Kelas Pekerja”. Kenyataannya mereka memang dipekerjakan oleh “majikannya” di lingkungan-lingkungan industri dimana para pekerja yang ironisnya dibayar murah ini dianggap sebagai faktor produksi, jadi tak ubahnya sama seperti mesin, karena mesin disebut faktor produksi dari suatu pabrik. Masyarakat pekerja ini makin miskin karena mereka cuma memiliki “badan” mereka untuk dipekerjakan, selain itu mereka tidak punya apa-apa untuk menjadikan diri mereka mempunyai modal (Kapital). Sementara alat-alat produksi atau modal (Kapital) dipunyai hanya oleh orang yang memperkerjakan mereka. Makanya golongan bermodal ini disebut Kapitalis. Penganut Sosialisme sejati pasti akan selalu berseberangan dengan penganut Kapitalisme sejati.

Ok, jika mengambil kata Sosialis sebagai rujukan sejarah maka orang-orang pertama yang menyebutnya adalah Pierre Leroux – Marrie Roch (1834)., keduanya dari Perancis dan Robert Owen (1771-1858, bapak Koperasi Modern) dari Inggris. Mereka adalah pemikir-pemikir yang pertama kali meng-kritisi (jadi belum menjadi suatu gerakan). Ada lagi pemikir-pemikir Inggris dan Perancis yang ber-experimen dengan fenomena sosial ini. Mereka adalah Louis Blanc, Charles Fourier, Pierre-Joseph Proudhon, Saint Simon dan Robert Owen sendiri. Mereka meng-kritisi Revolusi Industri (singkatnya ya, perubahan radikal dan besar-besaran akan industri di inggris, dari manual ke system mesin – sejak ditemukannya mesin uap) yang terjadi di Inggris. Mereka ini mencoba menuntut secara hukum untuk me-reform pembagian yang adil atas kemakmuran yang dihasilkan oleh industri dan hak untuk memiliki property pribadi.

Pada masa Karl Marx (1818-1883), dia menerbitkan “Communist Manifesto”. Singkatnya dalam bukunya ini Marx mengatakan bahwa Kapitalisme sebagai system ekonomi akan hancur dan harus digantikan oleh komunisme, seperti juga kapitalisme dulu menghancurkan Feodalisme, maka begitu juga Komunisme akan menghancurkan Kapitalisme lewat jalan revolusi Kaum Proletar (rakyat jelata).

Nah, pertanyaan yang menarik adalah, Komunisme itu apa? Ok, ini jawabannya. Dasar dari Komunisme adalah Sosialisme. Jadi Komunisme dibangun diatas fondasi atau dasar sebuah impian bernama Sosialisme. Ya… Sosialisme sifatnya adalah Utopia atau mimpi atau sekadar teori tanpa TINDAKAN. Sedangkan Komunisme yang didengungkan oleh Marx adalah Sosialisme yang BERTINDAK dan DIWUJUDKAN. Makanya setelah muncul Komunisme, kaum Sosialis disebut kaum Utopis atau Pemimpi. Sedangkan Komunisme Karl Marx jelas menyatakan bahwa dengan jalan revolusi sajalah kaum Proletar (kaum tanpa capital/modal) dapat merebut sumber-sumber dan faktor-faktor produksi sehingga mengakhiri era Kapitalisme dan menuju era hidup bersama dalam komunitas kemakmuran bersama.

Well…Jadi pertanyaan Marx itu komunis atau bukan terjawab sudah. Marx adalah Komunis. Sosialis itu jelas beda dengan komunis, karena Komunisme lahir dari Sosialisme dan dianggap bagian dari Sosialisme. Karena dari Sosialis lahirlah Komunisme. Jika Sosialisme adalah Teoritikal atau Utopia, maka Komunisme adalah Praktek atau Cara untuk Mewujudkan Sosialisme. Malah Marx sendiri terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran dari Charles Fourier dan Pierre-Joseph Proudhon. Jadi… bukan berbeda malah saudara sekandung…. Saya ingat dengan apa yang pernah guru saya katakan pada saya, dia bilang bahwa Komunisme itu pola hidup dan praktek, sedangkan ide dasarnya adalah Sosialisme.

Nah nih….Supaya ngerti bahwa Sosialisme itu adalah sebatas ide bukan praktek resmi maka saya akan bercerita tentang seseorang, yaitu bapak bangsa kita, Soekarno. Soekarno sendiri adalah seorang Sosialis yang Nasionalis. Dia adalah pencetus Paham Marhaenisme. Apa itu Marhaenisme? Sosialis gaya Indonesia. Soekarno pada suatu kesempatan saat masih tinggal di Bandung dan Indonesia masih dijajah Belanda, berjalan-jalan di pedesaan. Dia bertemu seorang bapak petani, yang sedang pulang dari sawah. Setelah bercakap-cakap dengan petani itu, Soekarno menemukan kenyataan bahwa petani itu adalah petani sewaan atau bayaran yang dibayar perhari untuk menggarap sawah yang bahkan bukan miliknya alias milik orang lain. Cangkul, arit dan ketam yang dipanggul petani itu bahkan semuanya bukan milik petani itu, tapi milik si empunya sawah. Modal bapak petani itu hanya tubuh kurusnya yang hitam karena setiap hari berjemur di ladang. Soekarno tertarik. Di Indonesia tidak ada pabrik-pabrik. Tetapi kaum Proletar yang marjinal adalah seperti petani ini, yang tidak memiliki apa-apa kecuali tubuhnya untuk dipekerjakan. Tubuhnya bahkan dikuasai oleh si empunya sawah, dipaksa untuk bekerja terus diladangnya. Pemikiran inilah yang membuat kaum Kapitalis seperti penjajah Belanda harus dilawan.. Demikian pemikiran Soekarno yang akan mempengaruhi kepemimpinannya untuk Bangsa Indonesia. Terlebih ketika ia mengijinkan komunisme hidup di Indonesia. Nama petani itu menurut Soekarno adalah Marhaen. Soekarno memanggilnya “Kang Marhaen”. Perkenalannya dengan Kang Marhaen ini membuatnya menciptakan sendiri Sosialisme gaya Indonesia, gaya Soekarno. Soekarno seorang sosialis tetapi ia bukan Komunis. Karena Soekarno tidak meletakkan dasar Komunisme gaya Marx ke dalam gerakan Nasionalisme-nya.

Ketika Komunisme pertam kali didengungkan oleh Marx, banyak orang tertarik, ajaran-ajaran dan pemikiran Marx menjadi SANGAT laku di waktu itu. Kenapa …?? Karena situasi dunia pada waktu itu dipenuhi dengan kaum Kapitalis dan Inggris baru saja melakukan Revolusi Industri. Maka di negara-negara yang dipenuhi warga Proletar (Kelas Pekerja) seperti Inggris, Perancis dan Russia, ide-ide Karl Marx disambut dengan hangat. Marx bersama Engels adalah Bapak Komunis Dunia. Komunisme-nya dipakai oleh kaum Bolshevik yang tertindas di Russia dan berhasil menumbangkan Kerajaan Russia lewat jalan Revolusi, (Revolusi Oktober 1918) sama seperti yang ditulis oleh Marx. Lewat ide kemakmuran bersama dalam suatu komunitas inilah yang menjadi dasar ide pembentukan UNI SOVIET dan pencaplokan negara-negara Baltik seperti Estonia, Latvia dan Lithuania oleh Lenin pada 1940. Lewat UNI SOVIET inilah juga Komunisme pertama kalinya secara besar-besaran menjadi PAHAM NEGARA secara resmi dan diaplikasikan secara utuh ke dalam system kenegaraan. Komunisme menajdi snagat terkenal ke seluruh dunia karena di-counter oleh AS sebagai negara Kapitalis. Sejak itu muncullah Perang Dingin.

Sebagai idealisme atau utopia dan bukan TINDAKAN NYATA seperti Komunis, Sosialis sendiri bisa disandingkan dengan banyak idealisme kenegaraan lainnya. Contohnya Hitler dengan NAZI-nya (Nasionalis-Sosialis), Saddam Husein dengan partai Baath-nya (Sosialisme Agama, Baath dulu Sosialis yang menentang rezim sekuler Irak, akhirnya Baath mengusung Agama untuk menarik dukungan negara Arab, ketika Irak digempur oleh Pasukan Multinasional saat Perang Teluk), bahkan presiden Venezuela sekarang, Hugo Chaves serta Presiden Bolivia sekarang, Evo Morales merupakan Sosialis Nasionalis sejati. Gerakan Anti Imperialis Barat dan Amerika mereka membuat sebagian besar negara-negara Amerika Latin sekarang lebih memposisikan dirinya ke arah “kiri”

 

 

Adapun kebaikan dari Sistem Ekonomi Sosialis adalah :

1) Disediakannya kebutuhan pokok Setiap warga Negara disediakan kebutuhan pokoknya, termasuk makanan dan minuman, pakaian, rumah, kemudahan fasilitas kesehatan, serta tempat dan lain-lain. Setiap individu mendapatkan pekerjaan dan orang yang lemah serta orang yang cacat fisik dan mental berada dalam pengawasan Negara.

2) Didasarkan perencanaan Negara Semua pekerjaan dilaksanakan berdasarkan perencanaan Negara Yang sempurna, di antara produksi dengan penggunaannya. Dengan demikian masalah kelebihan dan kekurangan dalam produksi seperti yang berlaku dalam System Ekonomi Kapitalis tidak akan terjadi.

Sejumlah pakar ekonomi dan sejarah telah mengemukakan beberapa masalah yang berkaitan dengan teori sosialisme. Sistem Ekonomi Sosialis mempunyai kelemahan sebagai berikut :

1) Sulit melakukan transaksi Tawar-menawar sangat sukar dilakukan oleh individu yang terpaksa mengorbankan kebebasan pribadinya dan hak terhadap harta milik pribadi hanya untuk mendapatkan makanan sebanyak dua kali. Jual beli sangat terbatas, demikian pula masalah harga juga ditentukan oleh pemerintah, oleh karena itu stabilitas perekonomian Negara sosialis lebih disebabkan tingkat harga ditentukan oleh Negara, bukan ditentukan oleh mekanisme pasar.

2) Membatasi kebebasan System tersebut menolak sepenuhnya sifat mementingkan diri sendiri, kewibawaan individu yang menghambatnya dalam memperoleh kebebasan berfikir serta bertindak, ini menunjukkan secara tidak langsung system ini terikat kepada system ekonomi diktator. Buruh dijadikan budak masyarakat yang memaksanya bekerja seperti mesin.

3) Mengabaikan pendidikan moral Dalam system ini semua kegiatan diambil alih untuk mencapai tujuan ekonomi, sementara pendidikan moral individu diabaikan. Dengan demikian, apabila pencapaian kepuasan kebendaan menjadi tujuan utama dan nilai-nilai moral tidak diperhatikan lagi. Ajaran agam dianggap sebagai candu yang dapat merusak.

B.      TEORI PEMBANGUNAN PARTISIPATORIS (PD)

ANALISIS :

 

Berpandangan bahwa partisipasi masyarakat merupakan hal yang sangat penting di dalam pembangunan. Jika dalam situasi umumnya pembangunan hanya bergerak pada pola positivisme, top-downisme yang tidak memberdayakan maka elemen kognitif untuk menghasilkan pemahaman yang baik terhadap realita kehidupan, elemen politis untuk memberdayakan golongan yang tertindas dan lemah, elemen instrumental untuk mengajukan alternatif solusi adalah elemen yang penting dalam pandangan pembangunan partisipatoris. Secara mendasar pembangunan partisipatoris terkait kekuatan untuk mendapatkan hak, menentukan sendiri apa yang dibutuhkan. Fokus teori ini adalah pada tingkatan masyarakat sipil atau akar rumput. Lazim di dalam pembangunan partisipatoris menggunakan metode Penilaian Partisipasi Pedesaan atau Participatory Rural Appraisal (PRA) yang digunakan untuk menilai perubahan peranan, perilaku, hubungan dan pembelajaran masyarakat lokal. Penekanan dari metode PRA ini adalah dimana para ahli memfasilitasi, mendorong, mendengar, berbagi metode untuk analisis, perencanaan, aksi, pemantauan dan evaluasi kebutuhan pembangunan mereka sendiri bukan dengan cara menceramahi, transfer teknologi atau memaksakan pandangan ahli.

Nelson, Bryant dan White (1982:206) menyebutkan bahwa keterlibatan kelompok atau masyarakat sebagai suatu kesatuan, dapat disebut partisipasi kolektif, sedangkan keterlibatan individual dalam kegiatan kelompok dapat disebut partisipasi individual. Partisipasi yang dimaksud ialah partisipasi vertikal dan horisontal masyarakat. Disebut partisipasi vertikal karena bisa terjadi dalam kondisi tertentu masyarakat terlibat atau mengambil bagian dalam suatu program pihak lain, dalam hubungan dimana masyarakat berada pada posisi sebagai bawahan, pengikut atau klien. Disebut partisipasi horisontal, karena pada suatu saat tidak mustahil masyarakat mempunyai kemampuan untuk berprakarsa, di mana setiap anggota/kelompok masyarakat berpartisipasi horisontal satu dengan yang lain, baik dalam melakukan usaha bersama, maupun dalam rangka melakukan kegiatan dengan pihak lain. Tentu saja partisipasi seperti itu merupakan suatu tanda permulaan tumbuhnya masyarakat yang mampu berkembang secara mandiri. Bank Dunia (Suhartanta, 2001) memberikan definisi partisipasi sebagai suatu proses para pihak yang terlibat dalam suatu program/proyek, yang ikut mempengaruhi dan mengendalikan inisiatif pembangunan dan pengembilan keputusan serta pengelolaan sumber daya pembangunan yang mempengaruhinya.

Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Bab II pasal 2 ayat 4 disebutkan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan untuk :
1. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan.
2. Menjamin tercipatanya integrasi, sinkroniasasi, dan sinergi baik antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi pemerintah maupun antar pusat dan daerah.
3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan
4. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat
5. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.

Menurut saya ada tiga alasan utama sangat pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yaitu: (1) Partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan dan proyek akan gagal, (2) Masyarakat mempercayai program pembagunan jika dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena masyarakat lebih mengetahui seluk beluk proyek dan merasa memiliki proyek tersebut, (3) Partisipasi merupakan hak demokrasi masyarakat dalam keterlibatannya di pembangunan.
Undang-undang tersebut secara jelas menyatakan bahwa salah satu tujuan dari sistem perencanaan pembangunan nasional adalah dapat mengoptimalkan partisipasi masyarakat dan menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan. Artinya adalah bahwa sistem perencanaan pembangunan menekankan pendekatan partisipatif masyarakat atau yang biasa disebut perencanaan partisipatif. partisipasi sebagai feed-forward information and feedback information. Dengan definisi ini, partisipasi masyarakat sebagai proses komunikasi dua arah yang terus menerus dapat diartikan bahwa partisipasi masyarakat merupakan komunikasi antara pihak pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan masyarakat di pihak lain sebagai pihak yang merasakan langsung dampak dari kebijakan tersebut. Dari pendapat Canter juga tersirat bahwa masyarakat dapat memberikan respon positif dalam artian mendukung atau memberikan masukan terhadap program atau kebijakan yang diambil oleh pemerintah, namun dapat juga menolak kebijakan.
Kritik atas penerapan teori ini adalah

  1. Pemerintah terjebak pada rutinitas kerja, partisipasi semu tanpa pemberdayaan masyarakat.
  2. Penyalahgunaan metode yang menitikberatkan pada voting dan sekedar alat stempel atas kewajiban partisipasi pembangunan.
  3. Menggunakan nama pembangunan partisipatif tetapi tidak lebih hanya untuk mengejar proyek.

C.      TEORI SISTEM DUNIA 

 

ANALISIS :

 

Teori ini berpandangan bahwa prospek dan kondisi pembangunan suatu negara secara mendasar dibentuk oleh proses ekonomi dan pola hubungan antar negara dalam skala dunia. Teori ini menekankan bahwa merupakan hal yang sia-sia untuk menganalisis atau membentuk pembangunan dengan memusatkan pada tingkat negara-negara secara individual dimana tiap-tiap negara berakar dalam sebuah sistem dunia.  Menurut para pakar bahwa teori sistem dunia mulai berkembang abad ke-14 ketika perdagangan internasional mulai berkembang dan ketika Eropa berkembang ke dalam jaman penemuan dan penjajahan. Teori ini didasari oleh pandangan Marxisme yang mana teori ini menekankan pada kelompok, negara,imperialisme dan kendali atas alat-alat produksi dan tenaga kerja.  Namun teori sistem dunia tidak sependapat terkait teori developmentalisme dalam Marxisme yang berisi gagasan bahwa masyarakat secara bertahap bergerak dari paham feodalisme, kapitalisme dan sosialisme kepada paham komunisme yang dapat dianalisis dan ditransformasi secara individual dan terpisah dari sistem dunia.

Teori sistem dunia muncul sebagai kritik atas teori modernisasi dan teori dependensi. Immanuel Wallerstein memandang bahwa dunia adalah sebuah sistem kapitalis yang mencakup seluruh Negara di dunia tanpa kecuali. Sehingga, integrasi yang terjadi lebih banyak dikarenakan pasar (ekonomi) daripada kepentingan politik. Dimana ada dua atau lebih Negara interdependensi yang saling bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan seperti food, fuel, and protection. Juga, terdapat satu atau dua persaingan politik untuk mendominasi yang dilakukan untuk menghindari hanya ada satu Negara sentral yang muncul ke permukaan selamanya Teori ini membagi dunia secara geografis menjadi tiga kelompok.

Yang pertama adalah kategori Inti (Kelompok Pusat) dimana terdapat pusat-pusat kekuasaan, kekayaan industri, dan pusat pengaruh politik dunia. Negara-negara ini secara kuat empengaruhi dan memaksakan aturan-aturan tatanan dunia. Negara- negar yang masuk ke dalam kategori ini antara lain Amerika Utara, Eropa Barat dan Jepang.

Kategori yang kedua adalah Semi Periperi (Kelompok Antara) dimana merupakan percampuran antara sifat-sifat dari negara-negara inti seperti perindustrian, kekuatan ekspor, kesejahteraan dan sifat kategori Periperi seperti kemiskinan, kerentanan terhadap pengaruh keputusan asing, kepercayaan pada produk pokok. Dalam kelompok ini adalah kelompok yang paling penuh pergolakan dimana anggotanya paling sering mengalami naik-turun dalam hirarki dunia. Negara- negar yang masuk ke dalam kategori ini antara lain Asia Timur, Amerika Latin, negara pecahan Uni Soviet.

Kelompok yang ketiga adalah Periperi (Kelompok Pinggiran) yang merupakan negara-negara yang terbelakang dalam sistem dunia. Kelompok ini hanya menyediakan bahan baku mentah bagi industri maju. Kelompok ini hidup dalam situasi kehidupan yang menyedihkan, kemiskinan dan prospek pembangunan masa depan yang suram. Negara- negar yang masuk ke dalam kategori ini antara lain mayoritas negara-negara di Afrika.

Indonesia pada awalnya masuk ke dalam kelompok Periperi tetapi dalam beberapa dekade belakangan ini Indonesia sudah masuk ke dalam Semi Periperi disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi berbasis pada ekspor industri, ekspor minyak, dan statusnya sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia.

Penekanan pada teori ini adalah, Negara-negara di dunia bisa naik dan juga bisa turun kelas. Negara pusat bisa saja menjadi Negara semi pinggiran, Negara semi pinggiran bisa menjadi Negara pusat atau Negara pinggiran, dan Negara pinggiran bisa menjadi Negara semi pinggiran. Hal ini terbukti pada Perang Dunia II, Inggris dan Belanda yang sebelumnya menjadi Negara pusat turun kelas digantikan Amerika Serikat pasca kehancuran dahsyat di Eropa.
Wallerstein merumuskan tiga strategi bagi terjadinya proses kenaikan kelas, yaitu:
Kenaikan kelas terjadi dengan merebut kesempatan yang datang. Sebagai misal negara pinggiran tidak lagi dapat mengimpor barang-barang industri oleh karena mahal sedangkan komiditi primer mereka murah sekali, maka negara pinggiran mengambil tindakan yang berani untuk melakukan industrialisasi substitusi impor. Dengan ini ada kemungkinan negara dapat naik kelas dari negara pinggiran menjadi negara setengah pinggiran.
Kenaikan kelas terjadi melalui undangan.

Hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan industri raksasa di negara-negara pusat perlu melakukan ekspansi ke luar dan kemudian lahir apa yang disebut dengan Multi National Corporate. Akibat dari perkembangan ini, maka muncullah industri-industri di negara-negara pinggiran yang diundang oleh oleh perusahaan-perusahaan Multi National Corporate untuk bekerjasama. Melalui proses ini maka posisi negara pinggiran dapat meningkat menjadi setengah pinggiran.

Kenaikan kelas terjadi karena negara menjalankan kebijakan untuk memandirikan negaranya. Sebagai misal saat ini dilakukan oleh Peru dan Chile yang dengan berani melepaskan dirinya dari eksploitasi negara-negara yang lebih maju dengan cara menasionalisasikan perusahaan-perusahaan asing. Namun demikian, semuanya ini tergantung pada kondisi sistem dunia yang ada, apakah pada saat negara tersebut mencoba memandirikan dirinya, peluang dari sistem dunia memang ada. Jika tidak, mungkin dapat saja gagal.

 

Kritik terhadap Teori Sistem Dunia :

  1. Terlalu memberikan perhatian pada aspek ekonomi.
  2. Sistem dunia tidak cukup ketika digunakan pada budaya global yang mempunyai sistem-dunia yang terpisah.
  3. Terlalu luas sehingga tidak efektif dalam menganalisis dinamika lokal. Teori sistem dunia mengesampingkan aktifitas, inisiatis masyarakat lokal.

 

Referensi :

The Companion to Development Studies : Editor Vandana & Robert Potter

Tentang Development Analyst

The Learner

Posted on 29 September 2012, in PEMBANGUNAN SOSIAL-BUDAYA. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Prof. Dr. Hj. Syamsiah Badruddin, M.Si

Just another WordPress.com weblog

Marco Kusumawijaya

on cities and citizens; forsaken ideas that I believe in

CIPPS - Center of Indonesian Public Policy Studies

Center of Indonesian Public Policy Studies

Development Studies Foundation

Interaction-Ecoinnovation-Sustainability

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: